Septinus George Saa – Mutiara Hitam dari Papua

Septinus George Saa (lahir 22 September 1986) adalah seorang pemenang lomba First Step to Nobel Prize in Physics pada tahun 2004 dari Indonesia. Makalahnya berjudul Infinite Triangle and Hexagonal Lattice Networks of Identical Resisto.

Dia berasal dari Jayapura, Papua dan merupakan anak bungsu di antara lima bersaudara.
 KEHIDUPAN
Rumah yang beralamat di Perumahan Pemda II Kotaraja Blok B/27, Jayapura, itu begitu sederhana. Beratap seng. Meski terkesan sangat sederhana, rumah tersebut tetap tampak bersih dan rapi. Di rumah berukuran kecil itulah Oge -panggilan akrab Septinus George Saa- dibesarkan.
Anak bungsu di antara lima bersaudara tersebut hanya tinggal bersama salah seorang kakaknya. Sedangkan kedua orang tuanya bermukim di Sorong Selatan, salah satu kabupaten baru di Papua yang sangat jauh dari Jayapura. Belum lama ini, ayah Oge, Silas Saa, diangkat menjadi kepala Dinas Kehutanan Sorong Selatan.
Beruntung, saat koran ini datang, ibunda Oge, Nelly Wafom, sedang berada di rumah. Tampaknya, sejak mendampingi putra bungsunya menerima penghargaan dari Gubernur Solossa pada 2 Mei lalu, Nelly belum kembali ke Sorong Selatan. Sedangkan ayah Oge lebih dulu pulang.
“Saya juga sedang menunggu Oge,” ujar Nelly ramah saat koran ini bertamu. Tampaknya, dia tak bisa menyembunyikan rasa bangganya atas prestasi yang berhasil diraih anaknya. Dia menunggu karena Oge saat ini tinggal di asrama sekolah SMAN 3 Buper, Jayapura.
Nelly yakin Oge akan pulang ke rumahnya siang itu. “Saya tahu dari agendanya semalam. Dia selalu menulis jadwalnya setiap hari. Dan, semalam dia bilang mau ketemu kepala Dinas Pendidikan Papua sekalian mampir ke rumah. Tapi, saya tidak tahu jam berapa,” katanya.
Dalam obrolan santai siang itu, Nelly menuturkan masa kecil Oge. Berasal dari keluarga pegawai negeri biasa, Oge lahir di Manokwari pada 22 September 1986. Sejak kecil, dia sering tinggal berpindah-pindah mengikuti orang tuanya. Bahkan, tak jarang dia hidup terpisah dari orang tua.
Menurut Nelly, tanda-tanda kecerdasan Oge tampak sejak kecil. “Saya masih ingat, ketika kakak-kakaknya berangkat sekolah, Oge menangis minta ikut. Padahal, saat itu umurnya belum genap enam tahun. Karena ada ibu guru yang kami kenal baik, akhirnya terpaksa Oge dibelikan seragam dan diikutkan sekolah,” ungkapnya.
Tampaknya, kemauan Oge itu kecil membuahkan hasil. Meski awalnya hanya ikut-ikutan kakaknya, prestasi dia tak terbendung. Semua pelajaran dilahapnya tanpa hambatan, sehingga dia terus mengikuti pelajaran. Di SD Vim Kotaraja, Jayapura, tempatnya sekolah, Oge menunjukkan prestasinya dengan menjadi juara umum saat lulus. Selanjutnya, dia langsung diterima di SLTP Santo Paulus Abepura tanpa tes. “Karena dianggap pintar, Oge langsung masuk SMP tanpa tes,” jelas Nelly.
 
Lulus SMP dengan predikat sangat memuaskan, Oge pun kembali tersaring masuk ke sekolah unggulan di Papua, yaitu SMAN 3 Buper, Jayapura. Di sekolah itulah prestasi dunia Oge berawal.
Lalu, bagaimana reaksi Nelly ketika tahu Oge memenangkan penghargaan tersebut? Nelly justru terlambat mengetahuinya. “Saat itu saya tidak diberi tahu bahwa Oge berangkat ke Jakarta. Sebab, saya bersama bapak sedang bertugas di Merauke. Saya baru tahu saat Oge akan menerima penghargaan di Jakarta pada 23 April lalu. Omnya yang di Jakarta memberi tahu saya lewat telepon bahwa Oge akan menerima penghargaan dari menteri. Tapi, saya tidak percaya. Ah ko tipu! Saya bilang begitu,” ujar Nelly berlogat Papua yang masih kental.
Setelah salah seorang anaknya yang kebetulan juga di Jakarta menelepon dan mengatakan hal yang sama, Nelly baru percaya. Tampaknya, saat itu Oge sudah hampir setahun pindah ke Jakarta. “Waktu itu, mereka (kakak-kakak Oge) sengaja menyembunyikannya dari saya bahwa Oge sudah berada di Jakarta. Sebab, kalau Oge mau pergi jauh, biasanya saya tidak mengizinkan,” ungkapnya.
Nelly sangat kaget dan bersyukur setelah mengetahui anaknya berhasil menemukan rumus baru dan menerima penghargaan dunia. Meski sudah menyadari kepandaian anaknya, dia mengaku tak menyangka anaknya berhasil berprestasi luar biasa.
Setelah menunggu cukup lama dan Oge tak kunjung datang, akhirnya koran ini “mengejar” Oge ke sekolahnya di SMAN 3 Buper yang berjarak sekitar 15 km dari rumahnya.
Sebagai sekolah unggulan yang berisi murid-murid terpandai di Papua, letak SMAN 3 Buper sangat strategis. Yakni, jauh dari keramaian kota dan berada di ketinggian perbukitan Jayapura. Semua murid dan guru pasti bisa tenang melaksanakan belajar mengajar.
Siang itu, situasi sekolah cukup lengang. Usai pelaksanaan ujian akhir nasional, sebagian siswa sudah pulang ke daerah masing-masing. Wartawan koran ini langsung menuju kamar Oge. Sayangnya, Oge tak ada di kamar.
Di kamar berukuran besar tersebut, tiga ABG lagi asyik membuka sebuah laptop. “Wah, baru setengah jam lalu dia keluar naik motor Mas, nggak tahu ke mana, sekarang dia menjadi orang sibuk,” kata Darlos, teman sekamar Oge.
Ternyata, laptop yang mereka mainkan adalah milik Oge, yang baru dibelinya di Jakarta. Berdasar penuturan Darlos, Oge memang tergolong pintar di sekolahnya. Bahkan, karena prestasinya yang menonjol, Oge terpilih menjadi ketua OSIS. “Memang, dia (Oge), orangnya, pintar sekali, terutama soal pelajaran eksak. Kalau kami tak tahu pelajaran yang diberikan guru, dia sering mengajarkan kami, IQ-nya tinggi,” kata Darlos.
Dalam pergaulannya sehari-hari di sekolah, Oge bukan anak yang sombong dan suka pilih-pilih teman. “Dia mau bergaul dengan siapa saja,” kata Darlos sambil memberikan tiga nomor handphone Oge. “Tapi, kalau lagi naik motor, Oge mematikan HP-nya,” tambah Darlos.
Setelah dikontak, akhirnya kami berjanji bertemu di rumahnya. Seperti remaja lainnya, Oge, yang kini berusia 19 tahun itu, senang dengan pakaian sportif. Pada saat ditemui di rumahnya, Oge baru pulang dari melayat di rumah salah seorang temannya. Dia masih mengenakan celana seragam warna abu-abu, kaus hitam, dan sepatu cats hitam. Dengan senyum ramah, Oge mempersilakan wartawan koran ini masuk.
Oge mengaku tertarik dengan fisika sejak kelas satu SMA. “Awalnya, saya tidak terlalu tertarik. Tapi, sejak kelas satu SMA, saya mulai belajar dan tertarik dengan fisika,” ujar murid kelas tiga yang memiliki hobi bermain basket itu.
Langkah awal Oge mengikuti lomba fisika internasional ?First Step to Nobel Prize in Physics? adalah saat Gubernur Papua J.P. Solossa mengirimkan enam siswa SMA 3 Buper ke Jakarta pada 6 Juli 2003. Keenam siswa pilihan tersebut akan diseleksi untuk mengikuti lomba di bidang pendidikan. Di antara keenam siswa itu, Oge ikut terpilih.
Sejak itulah, Oge mulai berdomisili di Jakarta dan digembleng dengan ilmu fisika di bawah tenaga pengajar berpengalaman di Universitas Pelita Harapan Jakarta. Oge langsung berangkat ke India untuk mengikuti lomba matematika internasional. “Saya hanya meraih peringkat delapan,” ujar Oge, kecewa dengan prestasi luar biasa itu.
Sepulang dari India, Oge kembali lolos dan berhak ikut lomba ?First Step to Nobel Prize in Physics? yang diselenggarakan di Polandia. “Tapi, saya belum pernah ke sana. Karena itu, semua rumus saya dikirimkan lewat email,” kata Oge.
Sebagai salah satu syarat mengikuti lomba tersebut, Oge menemukan sebuah rumus yang diberi nama George Saa Formula. Nama rumusnya itu, diambil dari nama panjang Oge, – Septinus George Saa – sebagai penemu. “Rumus itu adalah pengembangan Hukum Kirchoff. Dengan rumus saya tersebut, Hukum Kirchoff bisa disederhanakan lagi,” ujarnya, mencoba menerangkan secara praktis rumus penemuannya.
Berdasar penuturan Oge, tesis yang diikutkan lomba itu diberi judul Infinite Triangle and Hexagonal Latice Network of Identical. Dengan rumus baru itu, Oge berhasil menemukan cara lebih sederhana untuk menghitung resistor dari dua titik dalam sebuah jaringan. “Rumus itu bisa diaplikasikan ke banyak hal, bahkan kalau dikembangkan lagi dalam riset, dengan rumus itu, batu bara bisa diubah menjadi emas!” ujarnya bersemangat.
Untuk menemukan rumus tersebut, Oge harus belajar setiap hari secara intensif. Bahkan, tak jarang, dia lupa istirahat. “Kalau sudah pusing, saya dan teman-teman lain di Jakarta main ke Time Zone,” katanya polos. Akhirnya, setelah empat kali menuangkannya dalam makalah, rumus ciptaannya lolos dalam tes yang menggunakan program komputer. “Pada saat lolos tes itu, saya yakin, penemuan saya akan menang,” tandasnya.
Setelah dikirim ke Polandia, hasil makalah Oge dinilai tim ahli dari seluruh dunia. Hasilnya, Oge keluar menjadi pemenang dan menyingkirkan 78 peserta lain yang datang dari berbagai belahan bumi. Untuk mempertanggungjawabkan rumus tersebut, November tahun ini, Oge diundang ke Polandia untuk mempresentasikan hasil penemuannya, sekaligus menerima hadiah.
“Sekarang, saya tinggal mempersiapkan diri sebelum berangkat ke sana. Saya akan mengambil kursus bahasa Inggris dan belajar memberikan presentasi yang baik sebelum berangkat ke Polandia,” kata Oge yang mengaku belum punya pacar itu.
Jalan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, kini terbuka lebar. Tak tanggung-tanggung, Oge mendapatkan kebebasan untuk memilih seluruh perguruan tinggi baik negeri maupun swasta di Indonesia. Bahkan, tak menutup kemungkinan, universitas luar negeri juga membuka pintu bagi Oge.
” Pada saat memberikan penghargaan kepada saya pada 23 April, Bapak Menteri Malik Fajar mengatakan kepada semua rektor yang saat itu hadir bahwa saya bisa diterima di seluruh perguruan tinggi di Indonesia tanpa tes. Pak menteri juga mengatakan, universitas yang menerima saya wajib memberikan fasilitas belajar kepada saya,” kata Oge.
Meski mengaku pernah menerima tawaran dari Rektor ITB untuk kuliah di sana, hingga kini, Oge mengaku masih bingung menentukan pilihan melanjutkan kuliah. Karena harus pergi ke Polandia tahun ini, rencananya, Oge baru akan masuk kuliah tahun depan. “Saya masih bingung, mungkin baru tahun depan, saya tahu mau kuliah di mana,” katanya polos.
Berkat prestasinya, Oge sudah mengumpulkan berbagai hadiah, termasuk uang Rp 10 juta dari mendiknas, Rp 20 juta dari Gubernur Papua dan seperangkat komputer dari Dinas P dan K Provinsi Papua. “Tapi, komputernya belum saya terima,” ujarnya sambil tersenyum.
Sumber, Wikipedia
              http://www.fisikanet.lipi.go.id

Perihal kevinsero
y

One Response to Septinus George Saa – Mutiara Hitam dari Papua

  1. Anonymous mengatakan:

    Mantap dah oge

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: